}

Thursday, May 15, 2014

KERAJAAN TERNATE DAN TIDORE

berhubung saya dapet tugas resume kerajaan islam di maluku, yaa ini hasil resumnya :)
semoga bermanfaaat=D




Kerajaan islam di Maluku ada 2 , yaitu Kerajaan Ternate dan Tidore.Secara geografis kerajaan ternate dan tidore terletak di Kepulauan Maluku, antarasulawesi dan irian jaya letak terletak tersebut sangat strategis dan penting dalam dunia perdagangan masa itu.
Kerajaan tidore  sejak awal berdiri hingga raja keempat belum bisa dipastikan letaknya, setelah itu terjadi beberapa kali pemindahan pusat kerajaan, diantaranya adalah:
a.     Pada masa Jou Kolano Bunga Mabunga Balibung, diperkirakan pusat kerajaan terletak di Balibunga yang hingga kini masih diperdebatkan letaknya.,dimana ada yang mengatakan berada di utara Tidore dan ada pula yang mengatakan berada di pedalaman Tidore selatan.
b.     Pada masa pemerintahan sultan Ciriliyati, yaitu pada tahun 1495 M pusat kerajaan berada di Gam Tina.
c.      Pada masa pemerintahan sultan Mansur, yaitu pada tahun 1525 M ia memindahkan pusat kerajaan dengan mendirikan perkampungan baru di Rum Tidore Utara yang berdekatan dengan Ternate dan diapit oleh Tanjung Mafugogo dan pulau Maitara. Dengan keadaan laut yang indah dan tenang, lokasi ibukota baru ini cepat berkembang dan menjadi pelabuhan yang ramai.
d.     Pada masa Sultan Mole Majimo (Alauddin Syah), yaitu pada tahun 1600 M ibukota dipindahkan ke Toloa di selatan Tidore.
e.      Perpindahan terakhir yaitu pada masa Sultan Saifudin (Jou Kota), ibukota dipindahkan ke Limao Timore.
Pada masa itu, kepulauan maluku merupakan penghasil rempah-rempah terbesar sehingga di juluki sebagai “The Spicy Island”. Rempah-rempah menjadi komoditas utama dalam dunia perdagangan pada saat itu, sehingga setiap pedagang maupun bangsa-bangsa yang datang dan bertujuan ke sana, melewati rute perdagangan tersebut agama islam meluas ke maluku, seperti Ambon, ternate, dan tidore. Keadaan seperti ini, telah mempengaruhi aspek-aspek kehidupan masyarakatnya, baik dalam bidang politik, ekonomi, sosial, dan budaya.



KEHIDUPAN POLITIK KERAJAAN TERNATE
Kerajaan gapi atau yang lebih dikenal dengan kerajaan ternate (mengikuti nama ibukotanya) adalah salah satu dari 4 kerajaan islam di Maluku dan merupakan salah satu kerajaan islam tertua di Nusantara. Didirikan oleh Baab Manshur Malamo pada tahun 1257.
Dibawah pimpinan beberapa generasi penguasa berikutnya, ternate berkembang dari sebuah kerajaan yang hanya berwilayahkan sebuah oulau kecil menjadi kerajaan yang berpengaruh dan terbesar dibagian timur Indonesia khususnya Maluku. Kesultanan Ternate memiliki peran penting di kawasan timur nusantara atara abad ke-13 hingga abad ke-17.
Pada pertengahan abad ke-15, islam diadopsi secara total oleh kerajaan dan penerapan syariat Islam diberlakukan. Sultan Zainal Abidin meninggalkan gelar Kalano dan menggantinya dengan galar Sultan. Para ulama menjadi figur penting dalam kerajaan.
Setelah Sultan sebagai pemimpin tertinggi, ada jabatan Jogugu (perdana menteri) dan Fala Raha (penasihat).

A.    RAJA-RAJA YANG PERNAH MEMIMPIN
  1. Manshur Malano
  2. Sultan Zaman
  3. Kumalo
  4. Banguhu
  5. Ngora Malamo
  6. Mansterdam
  7. Sidang Arif Malamo
  8. Paji Malamo
  9. Syah Alain
  10. Tulo Malamo
  11. Kiyo Mabiji
  12. Ngalo Maja
  13. Mainole
  14. Gapi Malamo
  15. Gapi baguna I
  16. Kumalo II
  17. Gise
  18. Gapi Bahuna II
  19. Sultan Zainal Abidin

B.     SULTAN YANG MENYEBARKAN AGAMA ISLAM
  1. Sultan Zainal Abidin (sultan pertama)
  2. Sultan Sirullah (sultan kedua)
  3. Sultan Khairun (sultan ketiga)
  4. Sultan Baabullah (Sultan keempat)

C.    KEDATANGAN ISLAM
Tak ada sumber yang jelas mengenai kapan awalnya kedatangan Islam di Maluku khususnya Ternate. Namun diperkirakan sejak awal berdirinya kerajaan Ternate masyarakat telah mengenal Islam mengingat banyaknya pedagan Arab yang telah bermukin di Ternate kala itu. Beberapa raja awal Ternate sudah menggunakan nama bernuansa Islam namun kepastian mereka maupun keluarga kerajaan memeluk Islam masih masih diperdebatkan. Hanya dapat dipastikan bahwa keluarga kerajaan Ternate resmi memeluk Islam pertengahan abad ke-15
Kolano Marhum (1465-1486), penguasa Ternate ke-18 adalah raja pertama yang diketahui memeluk Islam bersama seluruh kerabat dan pejabat istana. Pengganti Kolano Marhum adalah putranya,  Zainal Abidin adalah meninggalkan gelar Kolano dan menggantinya dengan Sultn, Islam diakui sebagai agama resmi kerajaan, syariat islam diberlakukan, membentuk lembaga kerajaan sesuai hukum islam dengan melibatkan para ulama.
Kesultanan ternate menikmati kegemilangan di paruh abad ke-16 berkat perdagangan rempah-rempah dan kekuatan militernya. Di masa jaya kekuasaanya membentang mencakup wilayah Maluku, Sulawesi utara , timur dan tengah, bagian selatan kepulauan Filiphina hingga sejauh Kepulauan Marshall di pasifik.

D.    KEDATANGAN PORTUGAL DAN PERANG SAUDARA

Dimasa pemerintahan Sultan Bayanullah (1500-1521), ternate semakin berkembang, rakyatnya diwajibkan berpakaian secara islami, teknik pembuatan perahu dan senjata yang diperoleh dari orang Arab dan Turki digunakan untuk memperkuat pasukan Ternate. Di masa ini pula datang orang Eropa pertama di Maluku, Loedwijk de Bartomo (Ludovico Varthema) tahun 1506. Tahun 1512 pertugal untuk pertama kalinya menginjak kaki di Ternate dibawah pimpinan Franscisco Serrao, atas persetujuan Sultan, Portugal diizinkan mendirikan pos dagang di Ternate.
Portugal datang bukan semata-mata untuk berdagang melainkan untuk menguasai perdagangan rempah-rempah Pala dan Cengkih di Maluku. Untuk itu terlebih dulu mereka harus menaklukkan Ternate. Sultan Bayanullah wafat meninggalkan pewaris-pewaris yang masih sangat belia. Janda sultan, permaisuri Nukila dan Pangeran Taruwese, adik almarhum sultan bertintak sebagai wali. Permaisuri yang asal Tidore bermaksud memersatukan Ternate dengan Tidore dibawah satu mahkota yakni salah satu dari kedua puteranya, pangeran Hidayat dan pangeran Abu Hayat. Sementara pengeran mengiginkan tahta bagi dirinya sendiri.
Portugal memanfaatkan kesempatan ini dan mengadu domba keduanya ingga pecah perang saudara. Kubu permaisuri Nukila didukung Tidore sedang pengeran didukung oleh Portugal. Setelah  meraih kemenangan pangeran Taruwese justru dikhianati dan dibunuh Portugal. Gubernur Portugal bertindak sebagai penasihat kerajaan dan dengan pengaruh yang dimiliki berhasil membujuk dewan kerajaan untuk mengangkat pangeran Tabariji sebagai sultan. Ketika sultan tabariji menunjukkan sikap bermusuhan, ia difitnah dan dibawa ke Goa-India. Disana ia dipaksa untuk menandatangani perjanjian menjadikan Ternate sebagai kerajaan Kristen dan vasal kerajaan Portugal, namun perjanjian itu ditolak mentah-mentah oleh sultan Kahirun (1534-1570).

E.     PENGUSIRAN PORTUGAL

Perlakuan Portugal terhadap saudara-saudaranya membuat Sultan Khairun geram dan bertekad mengusir Portugal dari Maluku. Tindak-tindak bangsa barat yang satu ini juga menimbulkan kemarahan rakyat yang akhirnya berdiri dibelakang sultan Khairun.
Sejak masa sultan Bayanullah, Ternate telah menjadi salah satu dari tiga kesultanan terkuat dan pusat islam utama di Nusantara pada abad ke -16 selain Aceh dan Demak setelah jatuh kesultanan Malaka tahun 1511. Ketiganya membentuk Alinsi Tiga untuk membendung sepak terjang Portugal di Nusantara.

F.     KEDATANGAN BELANDA

Sepeninggal Sultan Baabullah Ternate mulai melemah, Spanyol yang telah bersatu dengan Portugal tahun 1580 mencoba menguasai kembali Maluku dengan menyerang Ternate. Kekalahan demi kekalahan yang diderita memaksa Ternate meninta bantuan Belanda tahun 1603. Ternate akhirnya sukses menahan spanyol namun dengan imbalan yang amat mahal. Belanda perlahan-lahan menguasai ternate, tanggal 26 juni 1607 Sultan Ternate mendatangani kontrak monopoli VOC di Maluku sebagai imbalan bantuan Belanda melawan Spanyol.

KEHIDUPAN POLITIK KERAJAAN TIDORE

Sistem pemerintahan di Tidore cukup mapan dan berjalan dengan baik. Struktur tertinggi kekuasaan berada di tangan sultan. Namun di kerajaan ini tidak mengenal sistem putra mahkota, karena sultan dipilih dengan cara menyeleksi calon-calon yang diajukan dari Dano-dano Folaraha (wakil-wakil marga dari Folaraha) yang terdiri dari Fola Yade, Fola Ake Sahu, Fola Rum dan Fola Bagus. Dari nama tersebut kemudian dipilih satu nama untuk menjadi sultan.
A.    SISTEM PEMERINTAHAN
Raja dalam melaksanakan tugasnya dibantu oleh suatu dewan wazir, dalam bahasa Tidore disebut Syara, adat se nakudi. Dewan ini dipimpin oleh sultan dan pelaksana tugasnya diserahkan kepada Joujau (perdana menteri). Anggota Dewan wazir terdiri dari Bobato pehak raha (empat pihak bobato; semcam departemen) dan wakil dari wilayah kekuasan. Bobato ini bertugas untuk mengatur dan melaksanakan keputusan Dewan Wazir.
Empat bobato tersebut adalah:
·         Pehak labe, semacam departemen agama yang membidangi masalah syariah. Anggota pehak labe terdiri dari para kadhi, imam, khatib dan modim.
·         Pehak adat bidang pemerintahan dan kemasyarakatan yang terdiri dari Jojau, Kapita Lau (panglima perang), Hukum Yade (menteri urusan luar), Hukum Soasio (menteri urusan dalam) dan Bobato Ngofa (menteri urusan kabinet).
·         Pehak Kompania (bidang pertahanan keamanan) yang terdiri dari Kapita Kie, Jou Mayor dan Kapita Ngofa.
·         Pehak juru tulis yang dipimpin oleh seorang berpangkat Tullamo (sekretaris kerajaan). Di bawahnya ada Sadaha (kepala rumah tangga), Sowohi Kie (protokoler kerajaan bidang kerohanian), Sowohi Cina (protokoler khusus urusan orang Cina), Fomanyira Ngare (public relation kesultanan) dan Syahbandar (urusan administrasi pelayaran).
     Selain struktur diatas, masih ada jabatan lain yang  membantu menjalankan tugas pemerintahan, seperti Gonone yang membidangi intelijen dan Serang Oli yang membidangi urusan propaganda.
B.     SULTAN YANG MEMERINTAH KERAJAAN TIDORE
Dari sejak awal berdirinya hingga saat ini, telah berkuasa 38 orang sultan di Tidore. Saat ini, yang berkuasa adalah Sultan H. Djafar Syah.
Susunan Kolano (Raja) yang pernah memerintah Kerajaan Tidore sebelum masuknya agama Islam terdiri dari delapan orang Kolano. Sedangkan setelah masuknya agama islam, susunan sultannya mencapai 30 sultan.
Adapun sultan yang pada masanya kerajaan tidore mencapai masa kejayaan adalah sultan Sultan Nuku (1780-1805 M).
B.1.      SULTAN NUKU
 
Sultan Nuku adalah pemimpin yang cerdik, berani, ulet, dan waspada. Beberapa usaha yang dilakukan oleh sultan Nuku adalah sebagai berikut:
·         Menyatukan Ternate dan Tidore untuk bersama-sama melawan Belanda yang dibantu Inggris. Belanda kalah serta terusir dari Tidore dan Ternate. Sementara itu, Inggris tidak mendapat apa-apa kecuali hubungan dagang biasa.
·         Memperluas wilayah kekuasaan, meliputi Pulau Seram, Makean Halmahera, Pulau Raja Ampat, Kai, dan Papua.
·         Menata sistem pemerintahan dengan baik, sehingga pemerintahan dapat berjalan dengan baik dan rakyatnya sejahtera.
·         Berjuang untuk mengusir Belanda dari seluruh kepulauan Maluku, termasuk Ternate, Bacan dan Jailolo. Perjuangan tersebut membuahkan hasil dengan menyerahnya Belanda pada Sultan Nuku pada 21 Juni 1801 M. Dengan itu, Ternate, Tidore, Bacan dan Jailolo kembali merdeka dari kekuasaan asing.

C.    KEDATANGAN PORTUGIS, SPANYOL, DAN BELANDA KE MALUKU
            Pada abad ke 16 M, orang Portugis dan Spanyol datang ke Maluku –termasuk Tidore– untuk mencari rempah-rempah, momonopoli perdagangan kemudian menguasai dan menjajah negeri kepulauan tersebut. Dalam usaha untuk mempertahankan diri, telah terjadi beberapa kali pertempuran antara kerajaaan-kerajaan di Kepulauan Maluku melawan kolonial Portugis dan Spanyol. Terkadang, Tidore, Ternate, Bacan dan Jailolo bersekutu sehingga kolonial Eropa tersebut mengalami kesulitan untuk menaklukkan Tidore dan kerajaan lainnya.
            Sepeninggal Portugis, datang Belanda ke Tidore dengan tujuan yang sama: memonopoli dan menguasai Tidore demi keuntungan Belanda sendiri. Dalam sejarah perjuangan di Tidore, sultan yang dikenal paling gigih dan sukses melawan Belanda adalah Sultan Nuku (1738-1805 M). Selama bertahun-tahun, ia berjuang untuk mengusir Belanda dari seluruh kepulauan Maluku, termasuk Ternate, Bacan dan Jailolo. Perjuangan tersebut membuahkan hasil dengan menyerahnya Belanda pada Sultan Nuku pada 21 Juni 1801 M.
D.    KERUNTUHAN KERAJAAN TIDORE
   Kerajaan ini mengalami keruntuhan disebabkan karena diadu domba dengan Kerajaan Ternate yang dilakukan oleh bangsa asing ( Spanyol dan Portugis ) yang bertujuan untuk memonopoli daerah penghasil rempah-rempah tersebut. Namun, tidak beberapa lama, akhirnya sultan tidore dan sultan ternate sadar bahwa mereka telah diadu domba oleh spanyol dan portugis untuk kepentingan mereka sendiri, maka sultan tidore dan ternate bersatu dan berhasil mengusir Spanyol dan Portugis dari kepulauan Maluku. Namun kemenangan tersebut tidak bertahan lama, karena pada akhir abad ke-18 M tidore berhasil ditaklukkan oleh VOC yang dikirim Belanda dan Belanda berhasil menguasai tidore.



Kerajaan islam di Maluku ada 2 , yaitu Kerajaan Ternate dan Tidore. Kerajaan tersebut tidak lepas dari masyarakat yang hidup dengan gaya hidup, kebudayaan, ekonomi yang mestinya ada perbedaan antara satu orang dengan orang lain. Maka dari itu, kehidupan masyarakat kerajaan islam di Maluku antara lain :
*  Kerajaan Ternate
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj-LzSUTq-TSBGhDV4orzSJDywgKR_s-lppY5ryEoW4yJoP6S5DTGkJcYF-hlXiwSGMSZNbg-Iz-_rEaQ_R7QTHUOeo-N6CPmqcebVhNJZh3diM1Wi7ZMdiMiiPd9JQX1XGlJpf0FZaMAw/s1600/TER.jpeg


Sebagian besar wilayah Maluku, Gorontalo, dan Banggai di Sulawesi, dan sampai ke Flores dan Mindanao, dikuasai oleh Kesultanan Ternate.
Sebagai kerajaan yang bercorak Islam, masyarakat Ternate dalam kehidupan sehari-harinya banyak menggunakan hukum Islam .
Hasil kebudayaan yang cukup menonjol dari kerajaan Ternate adalah keahlian masyarakatnya membuat kapal, seperti kapal kora-kora.
        Komunikasi yang dilakukan penduduk Ternate dalam interaksi kontak dagang dengan suku/bangsa lain di tempat ini menggunakan Bahasa Melayu sebagai bahasa pengantar (Lingua Franca). Bahasa Melayu adalah satu-satunya bahasa pergaulan antara berbagai daerah di kepulauan Nusantara pada waktu itu. . Aksara Arab–Melayu lah mulai dipakai untuk menuliskan bahasa Ternate (Arab Gundul). Bahkan sampai sekarang masih ada sejumlah kecil masyarakat Ternate (orang tua-tua) masih menggunakannya.
Setiap penulisan dokumen kerajaan selalu menggunakan tulisan Arab berbahasa Ternate (Semua dokumen kesultanan dalam sejarah Ternate yang ditemukan menggunakan aksara Arab). Saat ini aksara Arab sudah jarang digunakan dalam
tiap penulisan dokumen.
Tanah di Kepulauan maluku itu subur dan diliputi hutan rimba yang banyak memberikan hasil diantaranya cengkeh dan di kepulauan Banda banyak menghasilkan pala. Pada abad ke 12 M permintaan rempah-rempah meningkat, sehingga cengkeh merupakan komoditi yang penting. Pesatnya perkembangan perdagangan keluar dari maluku mengakibatkan terbentuknya persekutuan. Selain itu mata pencaharian perikanan turut mendukung perekonomian masyarakat.
Perdagangan dan pelayaran mengalami perkembangan yang pesat sehingga pada abad ke-15 telah menjadi kerajaan penting di Maluku. Para pedagang asing datang ke Ternate menjual barang perhiasan, pakaian, dan beras untuk ditukarkan dengan rempah-rempah. Ramainya perdagangan memberikan keuntungan besar bagi perkembangan Kerajaan Ternate sehingga dapat membangun laut yang cukup kuat.Sebagai kerajaan yang bercorak Islam, masyarakat Ternate dalam kehidupan sehari-harinya banyak menggunakan hukum Islam . Hal itu dapat dilihat pada saat Sultan Hairun dari Ternate dengan De Mesquita dari Portugis melakukan perdamaian dengan mengangkat sumpah dibawah kitab suci Al-Qur’an.
Kemunduran Kerajaan Ternate disebabkan karena diadu domba dengan Kerajaan Tidore yang dilakukan oleh bangsa asing ( Portugis dan Spanyol ) yang bertujuan untuk memonopoli daerah penghasil rempah-rempah tersebut. Setelah Sultan Ternate dan Sultan Tidore sadar bahwa mereka telah diadu domba oleh Portugis dan Spanyol, mereka kemudian bersatu dan berhasil mengusir Portugis dan Spanyol ke luar Kepulauan Maluku. Namun kemenangan tersebut tidak bertahan lama sebab VOC yang dibentuk Belanda untuk menguasai perdagangan rempah-rempah di Maluku berhasil menaklukkan Ternate dengan strategi dan tata kerja yang teratur, rapi dan terkontrol dalam bentuk organisasi yang kuat.

*  https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgZbEZHYUbXtFw6OCT_t8wjyyTR8slxYp80bPpje8DQHP3XhJroNusxZFfDX_m8u10naxli0rSKKX7O0vVCocYCI8epy-VTN8HViDnJcn_JZUwgJnLzTUsWqPqSfhZ6LOi8M6bANjt4Qdk/s1600/TIDORE.jpegKerajaan Tidore

 Wilayah Maluku bagian timur dan pantai-pantai Irian (Papua), dikuasai
oleh Kesultanan Tidore.
Tanah di Kepulauan maluku itu subur dan diliputi hutan rimba yang banyak memberikan hasil diantaranya cengkeh dan di kepulauan Banda banyak menghasilkan pala. Pada abad ke 12 M permintaan rempah-rempah meningkat, sehingga cengkeh merupakan komoditi yang penting. Pesatnya perkembangan perdagangan keluar dari maluku mengakibatkan terbentuknya persekutuan. Selain itu mata pencaharian perikanan turut mendukung perekonomian masyarakat.
Sebagai kerajaan yang bercorak Islam, masyarakat Tidore dalam kehidupan sehari-harinya banyak menggunakan hukum Islam . Hal itu dapat dilihat pada saat Sultan Nuku dari Tidore dengan De Mesquita dari Portugis melakukan perdamaian dengan mengangkat sumpah dibawah kitab suci Al-Qur’an.
Kerajaan Tidore terkenal dengan rempah-rempahnya, seperti di daerah Maluku. Sebagai penghasil rempah-rempah, kerajaan Tidore banyak didatangi oleh Bangsa-bangsa Eropa. Bangsa Eropa yang datang ke Maluku, antara lain Portugis, Spanyol, dan Belanda.
Kemunduran Kerajaan Tidore disebabkan karena diadu domba dengan Kerajaan Ternate yang dilakukan oleh bangsa asing ( Spanyol dan Portugis ) yang bertujuan untuk memonopoli daerah penghasil rempah-rempah tersebut. Setelah Sultan Tidore dan Sultan Ternate sadar bahwa mereka telah Diadu Domba oleh Portugis dan Spanyol, mereka kemudian bersatu dan berhasil mengusir Portugis dan Spanyol ke luar Kepulauan Maluku. Namun kemenangan tersebut tidak bertahan lama sebab VOC yang dibentuk Belanda untuk menguasai perdagangan rempah-rempah di Maluku berhasil menaklukkan Ternate dengan strategi dan tata kerja yang teratur, rapi dan terkontrol dalam bentuk organisasi yang kuat.

Jadi, Kerajaan Ternate dan Tidore berkembang sebagai kerajaan Maritim. Dan hal ini juga didukung oleh keadaan kepulauan Maluku yang memiliki arti penting sebagai penghasil utama komoditi perdagangan rempah-rempah yang sangat terkenal pada masa itu. Dengan andalan rempah-rempah tersebut maka banyak para pedagang baik dari dalam maupun luar Nusantara yang datang langsung untuk membeli rempah-rempah tersebut, kemudian diperdagangkan di tempat lain.
Dengan kondisi tersebut, maka perdagangan di Maluku semakin ramai dan hal ini tentunya mendatangkan kemakmuran bagi rakyat Maluku. Adanya monopoli dagang Portugis maka perdagangan menjadi tidak lancar dan menimbulkan kesengsaraan rakyat di Maluku.
Masuknya Islam ke Maluku maka banyak rakyat Maluku yang memeluk agama Islam terutama penduduk yang tinggal di tepi pantai, sedangkan di daerah pedalaman masih banyak yang menganut Animisme dan Dinamisme.
Dengan kehadiran Portugis di Maluku, menyebabkan agama Katholik juga tersebar di Maluku. Dengan demikian rakyat Maluku memiliki keanekaragaman agama. Perbedaan agama tersebut dimanfaatkan oleh Portugis untuk memancing pertentangan antara pemeluk agama. Dan apabila pertentangan sudah terjadi maka pertentangan tersebut diperuncing oleh campur tangan orang-orang Portugis. Dalam bidang kebudayaan Masjid dan Istana Raja dan lain-lain.
Keadaan Maluku yang subur dan diliputi oleh hutan rimba, maka daerah Maluku terkenal sebagai penghasil rempah seperti cengkeh dan pala. Cengkeh dan pala merupakan komoditi perdagangan rempah-rempah yang terkenal pada masa itu, sehingga pada abad 12 ketika permintaan akan rempah-rempah sangat meningkat, maka masyarakat Maluku mulai mengusahakan perkebunan dan tidak hanya mengandalkan dari hasil hutan. Oleh karena itu, maluku mendapat julukan “The Spicy Island” karena kekayaan rempah-rempahnya.
Perkebunan cengkeh banyak terdapat di Pulau Buru, Seram dan Ambon. Dalam rangka mendapatkan rempah-rempah tersebut, banyak pedagang-pedagang yang datang ke Kepulauan Maluku. Salah satunya adalah pedagang Islam dari Jawa Timur. Dengan demikian melalui jalan dagang tersebut agama Islam masuk ke Maluku, khususnya di daerah-daerah perdagangan seperti Hitu di Ambon, Ternate dan Tidore.
Selain melalui perdagangan, penyebaran Islam di Maluku dilakukan oleh para Mubaligh (Penceramah) dari Jawa, salah satunya Mubaligh terkenal yaitu Maulana Hussain dari Jawa Timur yang sangat aktif menyebarkan Islam di maluku sehingga pada abad 15 Islam sudah berkembang pesat di Maluku.
Dengan berkembangnya ajaran Islam di Kepulauan Maluku, maka rakyat Maluku baik dari kalangan atas atau rakyat umum memeluk agama Islam, sebagai contohnya Raja Ternate yaitu Sultan Marhum, bahkan putra mahkotanya yaitu Sultan Zaenal Abidin pernah mempelajari Islam di Pesantren Sunan Giri, Gresik, Jawa Timur sekitar abad 15. Dengan demikian di Maluku banyak berkembang kerajaan-kerajaan Islam.





1 comment:

  1. Mo tnyaa...ktnyakn sultan nuku itu berhsil mengusir blnda....nahh tpi kok sbab keruntuhn krjaannya sebab di taklukn blnda??? #kurngpahamhihii

    ReplyDelete