semoga bermanfaaat=D
Kerajaan islam di Maluku ada 2 , yaitu Kerajaan Ternate dan Tidore.Secara geografis kerajaan ternate
dan tidore terletak di Kepulauan Maluku, antarasulawesi dan irian jaya letak
terletak tersebut sangat strategis dan penting dalam dunia perdagangan
masa itu.
Kerajaan tidore sejak awal berdiri hingga raja keempat belum bisa
dipastikan letaknya, setelah itu terjadi beberapa kali pemindahan pusat
kerajaan, diantaranya adalah:
a.
Pada masa Jou Kolano Bunga Mabunga Balibung, diperkirakan pusat
kerajaan terletak di Balibunga yang hingga kini masih diperdebatkan
letaknya.,dimana ada yang mengatakan berada di utara Tidore dan ada pula yang
mengatakan berada di pedalaman Tidore selatan.
b.
Pada masa pemerintahan sultan Ciriliyati, yaitu pada tahun 1495 M pusat
kerajaan berada di Gam Tina.
c.
Pada masa pemerintahan sultan Mansur, yaitu pada tahun 1525 M ia
memindahkan pusat kerajaan dengan mendirikan perkampungan baru di Rum Tidore
Utara yang berdekatan dengan Ternate dan diapit oleh Tanjung Mafugogo dan pulau
Maitara. Dengan keadaan laut yang indah dan tenang, lokasi ibukota baru ini
cepat berkembang dan menjadi pelabuhan yang ramai.
d.
Pada masa Sultan Mole Majimo (Alauddin Syah), yaitu pada tahun 1600 M
ibukota dipindahkan ke Toloa di selatan Tidore.
e.
Perpindahan terakhir yaitu pada masa Sultan Saifudin (Jou Kota),
ibukota dipindahkan ke Limao Timore.
Pada masa itu, kepulauan maluku
merupakan penghasil rempah-rempah terbesar sehingga di juluki sebagai “The
Spicy Island”. Rempah-rempah menjadi komoditas
utama dalam dunia perdagangan pada saat itu, sehingga setiap pedagang
maupun bangsa-bangsa yang datang dan bertujuan ke sana, melewati rute
perdagangan tersebut agama islam
meluas ke maluku, seperti Ambon, ternate, dan tidore. Keadaan seperti
ini, telah mempengaruhi aspek-aspek kehidupan masyarakatnya, baik dalam bidang
politik, ekonomi, sosial, dan budaya.
KEHIDUPAN POLITIK KERAJAAN TERNATE
Kerajaan gapi atau yang lebih dikenal dengan kerajaan
ternate (mengikuti nama ibukotanya) adalah salah satu dari 4 kerajaan islam di
Maluku dan merupakan salah satu kerajaan islam tertua di Nusantara. Didirikan
oleh Baab Manshur Malamo pada tahun 1257.
Dibawah pimpinan beberapa generasi penguasa berikutnya,
ternate berkembang dari sebuah kerajaan yang hanya berwilayahkan sebuah oulau
kecil menjadi kerajaan yang berpengaruh dan terbesar dibagian timur Indonesia
khususnya Maluku. Kesultanan Ternate memiliki peran penting di kawasan timur
nusantara atara abad ke-13 hingga abad ke-17.
Pada pertengahan abad ke-15, islam diadopsi secara total
oleh kerajaan dan penerapan syariat Islam diberlakukan. Sultan Zainal Abidin
meninggalkan gelar Kalano dan menggantinya dengan galar Sultan. Para ulama
menjadi figur penting dalam kerajaan.
Setelah Sultan sebagai pemimpin tertinggi, ada jabatan
Jogugu (perdana menteri) dan Fala Raha (penasihat).
A.
RAJA-RAJA YANG PERNAH MEMIMPIN
- Manshur Malano
- Sultan Zaman
- Kumalo
- Banguhu
- Ngora Malamo
- Mansterdam
- Sidang Arif Malamo
- Paji Malamo
- Syah Alain
- Tulo Malamo
- Kiyo Mabiji
- Ngalo Maja
- Mainole
- Gapi Malamo
- Gapi baguna I
- Kumalo II
- Gise
- Gapi Bahuna II
- Sultan Zainal Abidin
B.
SULTAN YANG MENYEBARKAN AGAMA ISLAM
- Sultan Zainal Abidin (sultan pertama)
- Sultan Sirullah (sultan kedua)
- Sultan Khairun (sultan ketiga)
- Sultan Baabullah (Sultan keempat)
C.
KEDATANGAN ISLAM
Tak ada sumber yang jelas mengenai kapan awalnya
kedatangan Islam di Maluku khususnya Ternate. Namun diperkirakan sejak awal
berdirinya kerajaan Ternate masyarakat telah mengenal Islam mengingat banyaknya
pedagan Arab yang telah bermukin di Ternate kala itu. Beberapa raja awal
Ternate sudah menggunakan nama bernuansa Islam namun kepastian mereka maupun
keluarga kerajaan memeluk Islam masih masih diperdebatkan. Hanya dapat
dipastikan bahwa keluarga kerajaan Ternate resmi memeluk Islam pertengahan abad
ke-15
Kolano Marhum (1465-1486), penguasa Ternate ke-18 adalah
raja pertama yang diketahui memeluk Islam bersama seluruh kerabat dan pejabat
istana. Pengganti Kolano Marhum adalah putranya, Zainal Abidin adalah meninggalkan gelar
Kolano dan menggantinya dengan Sultn, Islam diakui sebagai agama resmi
kerajaan, syariat islam diberlakukan, membentuk lembaga kerajaan sesuai hukum
islam dengan melibatkan para ulama.
Kesultanan ternate menikmati kegemilangan di paruh abad
ke-16 berkat perdagangan rempah-rempah dan kekuatan militernya. Di masa jaya
kekuasaanya membentang mencakup wilayah Maluku, Sulawesi utara , timur dan
tengah, bagian selatan kepulauan Filiphina hingga sejauh Kepulauan Marshall di
pasifik.
D.
KEDATANGAN PORTUGAL DAN PERANG SAUDARA
Dimasa pemerintahan Sultan Bayanullah (1500-1521),
ternate semakin berkembang, rakyatnya diwajibkan berpakaian secara islami,
teknik pembuatan perahu dan senjata yang diperoleh dari orang Arab dan Turki
digunakan untuk memperkuat pasukan Ternate. Di masa ini pula datang orang Eropa
pertama di Maluku, Loedwijk de Bartomo (Ludovico Varthema) tahun 1506. Tahun
1512 pertugal untuk pertama kalinya menginjak kaki di Ternate dibawah pimpinan
Franscisco Serrao, atas persetujuan Sultan, Portugal diizinkan mendirikan pos
dagang di Ternate.
Portugal datang bukan semata-mata untuk berdagang
melainkan untuk menguasai perdagangan rempah-rempah Pala dan Cengkih di Maluku.
Untuk itu terlebih dulu mereka harus menaklukkan Ternate. Sultan Bayanullah
wafat meninggalkan pewaris-pewaris yang masih sangat belia. Janda sultan,
permaisuri Nukila dan Pangeran Taruwese, adik almarhum sultan bertintak sebagai
wali. Permaisuri yang asal Tidore bermaksud memersatukan Ternate dengan Tidore
dibawah satu mahkota yakni salah satu dari kedua puteranya, pangeran Hidayat
dan pangeran Abu Hayat. Sementara pengeran mengiginkan tahta bagi dirinya
sendiri.
Portugal memanfaatkan kesempatan ini dan mengadu domba
keduanya ingga pecah perang saudara. Kubu permaisuri Nukila didukung Tidore
sedang pengeran didukung oleh Portugal. Setelah
meraih kemenangan pangeran Taruwese justru dikhianati dan dibunuh
Portugal. Gubernur Portugal bertindak sebagai penasihat kerajaan dan dengan
pengaruh yang dimiliki berhasil membujuk dewan kerajaan untuk mengangkat
pangeran Tabariji sebagai sultan. Ketika sultan tabariji menunjukkan sikap
bermusuhan, ia difitnah dan dibawa ke Goa-India. Disana ia dipaksa untuk
menandatangani perjanjian menjadikan Ternate sebagai kerajaan Kristen dan vasal
kerajaan Portugal, namun perjanjian itu ditolak mentah-mentah oleh sultan
Kahirun (1534-1570).
E.
PENGUSIRAN PORTUGAL
Perlakuan Portugal terhadap saudara-saudaranya membuat
Sultan Khairun geram dan bertekad mengusir Portugal dari Maluku.
Tindak-tindak bangsa barat yang satu ini juga menimbulkan kemarahan rakyat yang
akhirnya berdiri dibelakang sultan Khairun.
Sejak masa sultan Bayanullah, Ternate telah menjadi salah
satu dari tiga kesultanan terkuat dan pusat islam utama di Nusantara pada abad
ke -16 selain Aceh dan Demak setelah jatuh kesultanan Malaka tahun 1511.
Ketiganya membentuk Alinsi Tiga untuk membendung sepak terjang Portugal
di Nusantara.
F.
KEDATANGAN BELANDA
Sepeninggal Sultan Baabullah Ternate mulai melemah,
Spanyol yang telah bersatu dengan Portugal tahun 1580 mencoba menguasai kembali
Maluku dengan menyerang Ternate. Kekalahan demi kekalahan yang diderita memaksa
Ternate meninta bantuan Belanda tahun 1603. Ternate akhirnya sukses menahan
spanyol namun dengan imbalan yang amat mahal. Belanda perlahan-lahan menguasai
ternate, tanggal 26 juni 1607 Sultan Ternate mendatangani kontrak monopoli VOC
di Maluku sebagai imbalan bantuan Belanda melawan Spanyol.
KEHIDUPAN POLITIK KERAJAAN
TIDORE
Sistem pemerintahan di Tidore cukup mapan dan
berjalan dengan baik. Struktur tertinggi kekuasaan berada di tangan sultan.
Namun di kerajaan ini tidak mengenal sistem putra mahkota, karena sultan
dipilih dengan cara menyeleksi calon-calon yang diajukan dari Dano-dano
Folaraha (wakil-wakil marga dari Folaraha) yang terdiri dari Fola Yade, Fola
Ake Sahu, Fola Rum dan Fola Bagus. Dari nama tersebut kemudian dipilih satu nama untuk
menjadi sultan.
A.
SISTEM PEMERINTAHAN
Raja dalam melaksanakan tugasnya dibantu oleh suatu
dewan wazir, dalam bahasa Tidore disebut Syara, adat se nakudi. Dewan ini
dipimpin oleh sultan dan pelaksana tugasnya diserahkan kepada Joujau (perdana
menteri). Anggota Dewan wazir terdiri dari Bobato pehak raha (empat pihak
bobato; semcam departemen) dan wakil dari wilayah kekuasan. Bobato ini bertugas
untuk mengatur dan melaksanakan keputusan Dewan Wazir.
Empat bobato tersebut adalah:
·
Pehak labe, semacam departemen agama yang membidangi masalah syariah.
Anggota pehak labe terdiri dari para kadhi, imam, khatib dan modim.
·
Pehak adat bidang pemerintahan dan kemasyarakatan yang terdiri dari
Jojau, Kapita Lau (panglima perang), Hukum Yade (menteri urusan luar), Hukum
Soasio (menteri urusan dalam) dan Bobato Ngofa (menteri urusan kabinet).
·
Pehak Kompania (bidang pertahanan keamanan) yang terdiri dari Kapita
Kie, Jou Mayor dan Kapita Ngofa.
·
Pehak juru tulis yang dipimpin oleh seorang berpangkat Tullamo
(sekretaris kerajaan). Di bawahnya ada Sadaha (kepala rumah tangga), Sowohi Kie
(protokoler kerajaan bidang kerohanian), Sowohi Cina (protokoler khusus urusan
orang Cina), Fomanyira Ngare (public relation kesultanan) dan Syahbandar
(urusan administrasi pelayaran).
Selain struktur diatas,
masih ada jabatan lain yang membantu
menjalankan tugas pemerintahan, seperti Gonone yang membidangi intelijen dan
Serang Oli yang membidangi urusan propaganda.
B.
SULTAN YANG MEMERINTAH KERAJAAN TIDORE
Dari sejak awal berdirinya hingga saat ini, telah
berkuasa 38 orang sultan di Tidore. Saat ini, yang berkuasa adalah Sultan H.
Djafar Syah.
Susunan Kolano (Raja) yang pernah memerintah
Kerajaan Tidore sebelum masuknya agama Islam terdiri dari delapan orang Kolano.
Sedangkan setelah masuknya agama islam, susunan sultannya mencapai 30 sultan.
Adapun sultan yang pada masanya kerajaan tidore
mencapai masa kejayaan adalah sultan Sultan Nuku (1780-1805 M).
B.1. SULTAN NUKU

Sultan Nuku adalah pemimpin yang cerdik, berani, ulet, dan waspada.
Beberapa usaha yang dilakukan oleh sultan Nuku adalah sebagai berikut:
·
Menyatukan Ternate dan Tidore untuk bersama-sama melawan Belanda yang
dibantu Inggris. Belanda kalah serta terusir dari Tidore dan Ternate. Sementara
itu, Inggris tidak mendapat apa-apa kecuali hubungan dagang biasa.
·
Memperluas wilayah kekuasaan, meliputi Pulau Seram, Makean Halmahera,
Pulau Raja Ampat, Kai, dan Papua.
·
Menata sistem pemerintahan dengan baik, sehingga pemerintahan dapat
berjalan dengan baik dan rakyatnya sejahtera.
·
Berjuang untuk mengusir Belanda dari seluruh kepulauan Maluku, termasuk
Ternate, Bacan dan Jailolo. Perjuangan tersebut membuahkan hasil dengan
menyerahnya Belanda pada Sultan Nuku pada 21 Juni 1801 M. Dengan itu, Ternate,
Tidore, Bacan dan Jailolo kembali merdeka dari kekuasaan asing.
C.
KEDATANGAN
PORTUGIS, SPANYOL, DAN BELANDA KE MALUKU
Pada abad ke 16 M, orang Portugis
dan Spanyol datang ke Maluku –termasuk Tidore– untuk mencari rempah-rempah,
momonopoli perdagangan kemudian menguasai dan menjajah negeri kepulauan
tersebut. Dalam usaha untuk mempertahankan diri, telah terjadi beberapa kali
pertempuran antara kerajaaan-kerajaan di Kepulauan Maluku melawan kolonial
Portugis dan Spanyol. Terkadang, Tidore, Ternate, Bacan dan Jailolo bersekutu
sehingga kolonial Eropa tersebut mengalami kesulitan untuk menaklukkan Tidore
dan kerajaan lainnya.
Sepeninggal Portugis, datang Belanda
ke Tidore dengan tujuan yang sama: memonopoli dan menguasai Tidore demi
keuntungan Belanda sendiri. Dalam sejarah perjuangan di Tidore, sultan yang
dikenal paling gigih dan sukses melawan Belanda adalah Sultan Nuku (1738-1805
M). Selama bertahun-tahun, ia berjuang untuk mengusir Belanda dari seluruh
kepulauan Maluku, termasuk Ternate, Bacan dan Jailolo. Perjuangan tersebut
membuahkan hasil dengan menyerahnya Belanda pada Sultan Nuku pada 21 Juni 1801
M.
D.
KERUNTUHAN
KERAJAAN TIDORE
Kerajaan ini mengalami
keruntuhan disebabkan karena diadu domba
dengan Kerajaan Ternate yang dilakukan oleh bangsa asing ( Spanyol dan Portugis
) yang bertujuan untuk memonopoli daerah penghasil rempah-rempah tersebut. Namun, tidak beberapa lama, akhirnya sultan tidore dan sultan ternate
sadar bahwa mereka telah diadu domba oleh spanyol dan portugis untuk
kepentingan mereka sendiri, maka sultan tidore dan ternate bersatu dan berhasil
mengusir Spanyol dan Portugis dari kepulauan Maluku. Namun kemenangan tersebut
tidak bertahan lama, karena pada akhir abad ke-18 M tidore berhasil ditaklukkan
oleh VOC yang dikirim Belanda dan Belanda berhasil menguasai tidore.
Kerajaan
islam di Maluku ada 2 , yaitu Kerajaan Ternate dan Tidore. Kerajaan tersebut
tidak lepas dari masyarakat yang hidup dengan gaya hidup, kebudayaan, ekonomi
yang mestinya ada perbedaan antara satu orang dengan orang lain. Maka dari itu,
kehidupan masyarakat kerajaan islam di Maluku antara lain :
Sebagian
besar wilayah Maluku, Gorontalo, dan Banggai di Sulawesi, dan sampai ke Flores
dan Mindanao, dikuasai oleh Kesultanan Ternate.
Sebagai kerajaan yang bercorak Islam, masyarakat Ternate dalam kehidupan
sehari-harinya banyak menggunakan hukum Islam .
Hasil kebudayaan yang cukup menonjol dari kerajaan Ternate adalah keahlian masyarakatnya membuat kapal, seperti kapal kora-kora.
Komunikasi yang dilakukan penduduk Ternate dalam interaksi kontak dagang dengan suku/bangsa lain di tempat ini menggunakan Bahasa Melayu sebagai bahasa pengantar (Lingua Franca). Bahasa Melayu adalah satu-satunya bahasa pergaulan antara berbagai daerah di kepulauan Nusantara pada waktu itu. . Aksara Arab–Melayu lah mulai dipakai untuk menuliskan bahasa Ternate (Arab Gundul). Bahkan sampai sekarang masih ada sejumlah kecil masyarakat Ternate (orang tua-tua) masih menggunakannya.
Setiap penulisan dokumen kerajaan selalu menggunakan tulisan Arab berbahasa Ternate (Semua dokumen kesultanan dalam sejarah Ternate yang ditemukan menggunakan aksara Arab). Saat ini aksara Arab sudah jarang digunakan dalam tiap penulisan dokumen.
Hasil kebudayaan yang cukup menonjol dari kerajaan Ternate adalah keahlian masyarakatnya membuat kapal, seperti kapal kora-kora.
Komunikasi yang dilakukan penduduk Ternate dalam interaksi kontak dagang dengan suku/bangsa lain di tempat ini menggunakan Bahasa Melayu sebagai bahasa pengantar (Lingua Franca). Bahasa Melayu adalah satu-satunya bahasa pergaulan antara berbagai daerah di kepulauan Nusantara pada waktu itu. . Aksara Arab–Melayu lah mulai dipakai untuk menuliskan bahasa Ternate (Arab Gundul). Bahkan sampai sekarang masih ada sejumlah kecil masyarakat Ternate (orang tua-tua) masih menggunakannya.
Setiap penulisan dokumen kerajaan selalu menggunakan tulisan Arab berbahasa Ternate (Semua dokumen kesultanan dalam sejarah Ternate yang ditemukan menggunakan aksara Arab). Saat ini aksara Arab sudah jarang digunakan dalam tiap penulisan dokumen.
Tanah di Kepulauan
maluku itu subur dan diliputi hutan rimba yang banyak memberikan hasil
diantaranya cengkeh dan di kepulauan Banda banyak menghasilkan pala. Pada abad
ke 12 M permintaan rempah-rempah meningkat, sehingga cengkeh merupakan komoditi
yang penting. Pesatnya perkembangan perdagangan keluar dari maluku
mengakibatkan terbentuknya persekutuan. Selain itu mata pencaharian perikanan
turut mendukung perekonomian masyarakat.
Perdagangan dan pelayaran mengalami perkembangan yang pesat sehingga pada
abad ke-15 telah menjadi kerajaan penting di Maluku. Para pedagang asing datang
ke Ternate menjual barang perhiasan, pakaian, dan beras untuk ditukarkan dengan
rempah-rempah. Ramainya perdagangan memberikan keuntungan besar bagi
perkembangan Kerajaan Ternate sehingga dapat membangun laut yang cukup
kuat.Sebagai kerajaan yang bercorak Islam, masyarakat
Ternate dalam kehidupan sehari-harinya banyak menggunakan hukum Islam . Hal itu
dapat dilihat pada saat Sultan Hairun dari Ternate dengan De Mesquita
dari Portugis melakukan perdamaian dengan mengangkat sumpah dibawah kitab suci
Al-Qur’an.
Kemunduran Kerajaan Ternate disebabkan karena diadu domba dengan Kerajaan
Tidore yang dilakukan oleh bangsa asing ( Portugis dan Spanyol ) yang bertujuan
untuk memonopoli daerah penghasil rempah-rempah tersebut. Setelah Sultan
Ternate dan Sultan Tidore sadar bahwa mereka telah diadu domba oleh Portugis dan
Spanyol, mereka kemudian bersatu dan berhasil mengusir Portugis dan Spanyol ke
luar Kepulauan Maluku. Namun kemenangan tersebut tidak bertahan lama sebab VOC
yang dibentuk Belanda untuk menguasai perdagangan rempah-rempah di Maluku
berhasil menaklukkan Ternate dengan strategi dan tata kerja yang teratur, rapi
dan terkontrol dalam bentuk organisasi yang kuat.
Wilayah Maluku bagian
timur dan pantai-pantai Irian (Papua), dikuasai
oleh Kesultanan
Tidore.
Tanah di Kepulauan
maluku itu subur dan diliputi hutan rimba yang banyak memberikan hasil
diantaranya cengkeh dan di kepulauan Banda banyak menghasilkan pala. Pada abad
ke 12 M permintaan rempah-rempah meningkat, sehingga cengkeh merupakan komoditi
yang penting. Pesatnya perkembangan perdagangan keluar dari maluku
mengakibatkan terbentuknya persekutuan. Selain itu mata pencaharian perikanan
turut mendukung perekonomian masyarakat.
Sebagai kerajaan
yang bercorak Islam,
masyarakat Tidore dalam kehidupan sehari-harinya banyak menggunakan hukum Islam
. Hal itu dapat dilihat pada saat Sultan Nuku dari Tidore dengan De Mesquita
dari Portugis
melakukan perdamaian dengan mengangkat sumpah dibawah kitab suci Al-Qur’an.
Kerajaan Tidore
terkenal dengan rempah-rempahnya, seperti di daerah Maluku. Sebagai penghasil
rempah-rempah, kerajaan Tidore banyak didatangi oleh Bangsa-bangsa Eropa.
Bangsa Eropa yang datang ke Maluku, antara lain Portugis,
Spanyol,
dan Belanda.
Kemunduran Kerajaan
Tidore disebabkan karena diadu domba dengan Kerajaan Ternate yang dilakukan
oleh bangsa asing ( Spanyol
dan Portugis
) yang bertujuan untuk memonopoli daerah penghasil rempah-rempah tersebut.
Setelah Sultan Tidore dan Sultan Ternate sadar bahwa mereka telah Diadu Domba
oleh Portugis
dan Spanyol,
mereka kemudian bersatu dan berhasil mengusir Portugis
dan Spanyol
ke luar Kepulauan Maluku.
Namun kemenangan tersebut tidak bertahan lama sebab VOC yang dibentuk Belanda
untuk menguasai perdagangan rempah-rempah di Maluku
berhasil menaklukkan Ternate dengan strategi dan tata kerja yang teratur, rapi
dan terkontrol dalam bentuk organisasi yang kuat.
Jadi, Kerajaan Ternate dan Tidore
berkembang sebagai kerajaan Maritim. Dan hal ini juga didukung oleh keadaan
kepulauan Maluku yang memiliki arti penting sebagai penghasil utama komoditi
perdagangan rempah-rempah yang sangat terkenal pada masa itu. Dengan andalan
rempah-rempah tersebut maka banyak para pedagang baik dari dalam maupun luar
Nusantara yang datang langsung untuk membeli rempah-rempah tersebut, kemudian
diperdagangkan di tempat lain.
Dengan
kondisi tersebut, maka perdagangan di Maluku semakin ramai dan hal ini tentunya
mendatangkan kemakmuran bagi rakyat Maluku. Adanya monopoli dagang Portugis
maka perdagangan menjadi tidak lancar dan menimbulkan kesengsaraan rakyat di
Maluku.
Masuknya
Islam ke Maluku maka banyak rakyat Maluku yang memeluk agama Islam terutama
penduduk yang tinggal di tepi pantai, sedangkan di daerah pedalaman masih
banyak yang menganut Animisme dan Dinamisme.
Dengan
kehadiran Portugis di Maluku, menyebabkan agama Katholik juga tersebar di
Maluku. Dengan demikian rakyat Maluku memiliki keanekaragaman agama. Perbedaan
agama tersebut dimanfaatkan oleh Portugis untuk memancing pertentangan antara
pemeluk agama. Dan apabila pertentangan sudah terjadi maka pertentangan
tersebut diperuncing oleh campur tangan orang-orang Portugis. Dalam bidang
kebudayaan Masjid dan Istana Raja dan lain-lain.
Keadaan
Maluku yang subur dan diliputi oleh hutan rimba, maka daerah Maluku terkenal
sebagai penghasil rempah seperti cengkeh dan pala. Cengkeh dan pala merupakan
komoditi perdagangan rempah-rempah yang terkenal pada masa itu, sehingga pada
abad 12 ketika permintaan akan rempah-rempah sangat meningkat, maka masyarakat
Maluku mulai mengusahakan perkebunan dan tidak hanya mengandalkan dari hasil
hutan. Oleh karena itu, maluku mendapat julukan “The
Spicy Island” karena kekayaan rempah-rempahnya.
Perkebunan
cengkeh banyak terdapat di Pulau Buru, Seram dan Ambon. Dalam rangka mendapatkan
rempah-rempah tersebut, banyak pedagang-pedagang yang datang ke Kepulauan
Maluku. Salah satunya adalah pedagang Islam dari Jawa Timur. Dengan demikian
melalui jalan dagang tersebut agama Islam masuk ke Maluku, khususnya di
daerah-daerah perdagangan seperti Hitu di Ambon, Ternate dan Tidore.
Selain
melalui perdagangan, penyebaran Islam di Maluku dilakukan oleh para Mubaligh
(Penceramah) dari Jawa, salah satunya Mubaligh terkenal yaitu Maulana Hussain
dari Jawa Timur yang sangat aktif menyebarkan Islam di maluku sehingga pada
abad 15 Islam sudah berkembang pesat di Maluku.
Dengan
berkembangnya ajaran Islam di Kepulauan Maluku, maka rakyat Maluku baik dari
kalangan atas atau rakyat umum memeluk agama Islam, sebagai contohnya Raja
Ternate yaitu Sultan Marhum, bahkan putra mahkotanya yaitu Sultan Zaenal Abidin
pernah mempelajari Islam di Pesantren Sunan Giri, Gresik, Jawa Timur sekitar
abad 15. Dengan demikian di Maluku banyak berkembang kerajaan-kerajaan Islam.

